A. Definisi Perencanaan dan
Pengendalian Produksi
Perencanaan dan pengendalian produksi merupakan salah satu fungsi yang
terpenting dalam usaha mencapai tujuan perusahaan. Yang dimaksud dengan
perencanaan dan pengendalian produksi yaitu merencanakan kegiatan-kegiatan
produksi, agar apa yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik.
Perencanaan produksi adalah aktivitas untuk menetapkan produk yang diproduksi,
jumlah yang dibutuhkan, kapan produk tersebut harus selesai dan sumber-sumber
yang dibutuhkan. Pengendalian produksi adalah aktivitas yang menetapkan
kemampuan sumber-sumber yang digunakan dalam memenuhi rencana, kemampuan
produksi berjalan sesuai rencana, melakukan perbaikan rencana. Tujuan utamanya
adalah memaksimumkan pelayanan bagi konsumen, meminimumkan investasi pada
persediaan, perencanaan kapasitas, pengesahan produksi dan pengesahan
pengendalian produksi, persediaan dan kapasitas, penyimpanan dan pergerakan
material, peralatan, routing dan proses planning, dan sebagainya.
B. Tujuan dan Fungsi Perencanaan dan
Pengendalian Produksi
1. Tujuan perencanaan dan pengendalian produksi
Tujuan perencanaan dan pengendalian produksi adalah sebagai berikut:
a. Mengusahakan agar perusahaan dapat berproduksi
secara efisien dan efektif.
b. Mengusahakan agar perusahaan dapat menggunakan
modal seoptimal mungkin.
c. Mengusahakan agar pabrik dapat menguasai pasar yang
luas.
d. Untuk dapat memperoleh keuntungan yang cukup bagi
perusahaan.
2. Fungsi perencanaan dan pengendalian produksi
Fungsi dari perencanaan dan pengendalian produksi adalah:
a. Meramalkan permintaan produk yang dinyatakan dalam
jumlah produk sebagai fungsi dari waktu.
b. Memonitor permintaan yang aktual, membandingkannya
dengan ramalan permintaan sebelumnya dan melakukan revisi atas ramalan tersebut
jika terjadi penyimpangan.
c. Menetapkan ukuran pemesanan barang yang ekonomis
atas bahan baku yang akan dibeli.
d. Menetapkan sistem persediaan yang ekonomis.
e. Menetapkan kebutuhan produksi dan tingkat
persediaan pada saat tertentu.
f. Memonitor tingkat persediaan, membandingkannya
dengan rencana persediaan, dan melakukan revisi rencana produksi pada saat yang
ditentukan.
g. Membuat jadwal produksi, penugasan, serta
pembebanan mesin dan tenaga kerja yang terperinci.
C. Tingkatan Perencanaan dan
Pengendalian Produksi
Sistem pengendalian dan perencanaan produksi terbagi ke dalam tiga tingkatan:
- Perencanaan jangka panjang (long range planning)
Perencanaan ini meliputi kegiatan
peramalan usaha, perencanaan jumlah produk dan penjualan, perencanaan produksi,
perencanaan kebutuhan bahan, dan perencanaan finansial.
- Perencanaan jangka menengah (medium range planning)
Perencanaan jangka menengah meliputi kegiatan berupa perencanaan kebutuhan
kapasitas (capacity reqiurement planning), perencanaan kebutuhan
material (material requirement planning), jadwal induk produksi (master
production schedule), dan perencanaan kebutuhan distribusi (distribution
requirement planning).
- Perencanaan jangka pendek (short range planning)
Perencanaan jangka pendek berupa
kegiatan penjadwalan perakitan produk akhir (final assembly schedule), perencanaan
dan pengendalian input-output, pengendalian kegiatan produksi, perencanaan dan
pengendalian purchase, dan manajemen proyek.
Kegiatan
perencanaan dan pengendalian produksi meliputi:
- Peramalan kuantitas permintaan
- Perencanaan pembelian/pengadaan: jenis, jumlah, dan waktu
- Perencanaan persediaan (inventory): jenis, jumlah, dan waktu
- Perencanaan kapasitas: tenaga kerja, mesin, fasilitas
- Penjadwalan produksi dan tenaga kerja
- Penjaminan kualitas
- Monitoring aktivitas produksi
- Pengendalian produksi
- Pelaporan dan pendataan
D. Pengertian Sistem Manufaktur
Istilah manufaktur banyak digunakan di kalangan industri dan akademis,
namun pengertian manufaktur masih rancu hingga saat ini. Pengertian mengenai
manufaktur yaitu sebagai berikut :
1. Manufaktur (manufacturing)
adalah kumpulan operasi dan aktivitas yang saling berhubungan untuk membuat
suatu produk, meliputi : Perancangan produk, pemilihan material, perencanaan
proses, perencanaan produksi, produksi, inspeksi, manajemen, dan pemasaran.
2. Produksi (manufacturing
production) adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk membuat produk.
3. Proses
produksi manufaktur (manufacturing process) adalah aktivitas sistem
manufaktur terkecil yang dilakukan untuk membuat produk, yaitu proses
permesinan maupun proses pembentukan lainnya.
4. Rekayasa manufaktur (manufacturing engineering)
adalah kegiatan perancangan, operasi, dan pengendalian proses manufaktur.
5. Sistem
manufaktur (manufacturing system) adalah suatu organisasi yang
melaksanakan berbagai kegiatan manufaktur yang saling berhubungan, dengan
tujuan menjembatani fungsi produksi dengan fungsi-fungsi lain di luar fungsi
produksi, agar dicapai performansi produktivitas total sistem yang optimal,
seperti : waktu produksi, ongkos, dan utilitas mesin. Aktivitas sistem manufaktur termasuk perancangan, perencanaan, produksi,
dan pengendalian. Fungsi lain di luar sistem manufaktur, yaitu: akuntansi,
keuangan, dan personel.
E. Klasifikasi Sistem Manufaktur
Terdapat
berbagai klasifikasi sistem manufaktur, antara lain:
- Tipe produksi
Bertrand, Wortman & Wijngaard (1990) mengklasifikasikan sistem
manufaktur berdasarkan tipe produksi menjadi 4 kategori, yaitu:
a. Make to Stock (MTS)
Pada strategi MTS, persediaan dibuat dalam bentuk produk akhir yang siap dipak.
Siklus dimulai ketika perusahaan menentukan produk, kemudian menentukan
kebutuhan bahan baku, dan membuatnya untuk disimpan. Konsumen akan memesan
produk jika harga dan spesifikasi produk sesuai dengan kebutuhannya. Operasi
difokuskan pada kebutuhan pemenuhan tingkat persediaan dan order yang tidak
diidentifikasi pada proses produksi. Sistem produksi mengembangkan tingkat
persediaan yang didasarkan pada order yang akan datang, bukan pada order
sekarang. Pada strategi ini, resiko persediaan lebih besar. Contoh produk:
makanan, minuman, mainan, dan lain-lain.
b. Assemble to
Order (ATO)
Strategi ATO, semua subassembly masuk pada persediaan. Ketika order suatu produk datang, perusahaan dapat dengan cepat merakit
komponen menjadi produk jadi. Strategi ini digunakan oleh perusahaan yang
mempunyai produk modular, yang dapat dirakit menjadi beberapa produk akhir.
Strategi ini mempunyai ’moderate risk’ terhadap investasi persediaan.
Operasi lebih difokuskan pada modul atau part. Contoh produk: automobile, elektronik,
komputer komersil, restoran fast food yang menyediakan beberapa paket makanan,
dan lain-lain.
c. Make to Order (MTO)
Strategi MTO mempunyai persediaan tetapi hanya dalam bentuk desain produk
dan beberapa bahan baku standar, sesuai dengan produk yang telah dibuat
sebelumnya. Aktivitas proses berdasarkan order konsumen. Aktivitas proses
dimulai pada saat konsumen menyerahkan spesifikasi produk yang dibutuhkan dan
perusahaan akan membantu konsumen menyiapkan spesifikasi produk, beserta harga
dan waktu penyerahan. Apabila telah dicapai kesepakatan, maka perusahaan akan
mulai membuat komponen dan merakitnya menjadi produk dan kemudian menyerahkan
kepada konsumen. Pada strategi ini, resiko terhadap investasi persediaan kecil,
operasionalnya lebih fokus pada keinginan konsumennya. Contoh produk: komponen
mesin, komputer untuk riset, dan lain-lain.
d. Engineering to
Order (ETO)
Dalam ETO, tidak ada persediaan. Produk belum dibuat sebelum ada order.
Ketika order datang, perusahaan akan mengembangkan desain produk berserta waktu
dan biaya yang diperlukan. Apabila rancangannya disetujui konsumen, maka produk
baru dibuat. Strategi ini tidak mempunyai resiko (zero risk) persediaan.
Dan cocok untuk produk baru atau unik. Misalnya: Kapal, komputer untuk militer,
prototype mesin baru, dan lain-lain. Operasi lebih difokuskan pada spesifikasi
order dari konsumen daripada partnya itu sendiri.
Tabel 1.1. Karakteristik Berbagai
Sistem Manufaktur
Karakteristik
|
MTS
|
ATO
|
MTO
|
ETO
|
Produk
|
Standard
|
Keluarga produk tertentu
|
Tidak punya keluarga produk, customized
|
Customized total
|
Kebutuhan produk
|
Dapat diramalkan
|
Tidak dapat diramalkan
|
||
Kapasitas
|
Dapat direncanakan
|
Tidak dapat direncanakan
|
||
Waktu produksi
|
Tidak penting bagi pelanggan
|
Penting
|
Penting
|
Sangat penting
|
Kunci persaingan
|
Logistik
|
Perakitan akhir
|
Fabrikasi, perakitan akhir
|
Seluruh proses
|
Kompleksitas Operasi
|
Distribusi
|
Perakitan
|
Manufaktur komponen
|
Engineering
|
Ketidakjelasan Operasi
|
Terendah
|
Tertinggi
|
||
Fokus manajemen puncak
|
Marketing/distribusi
|
Inovasi
|
Kapasitas
|
Kontrak order pelanggan
|
Fokus manajemen menengah
|
Kontrol stock
|
MPS dan order pelanggan
|
Shop floor control, pelanggan
|
Manajemen proyek
|
a. Sistem Manufaktur MTO-repetitif
Sistem manufaktur Make to Order (MTO) adalah sistem manufaktur yang
beroperasi berdasarkan pesanan. Sistem
manufaktur ini dibagi lagi menjadi MTO non-repetitif dan MTO repetitif. Beberapa
parameter yang membedakan kedua sistem MTO ini dapat dilihat pada tabel 1.2 di
bawah ini.
Tabel 1.2. Perbedaan antara
Sistem Produksi MTO Repetitif & Non-Repetitif
MTO
Repetitif
|
MTO
Non-Repetitif
|
|
Karakteristik
pesanan
|
Pesanan berulang dalam waktu singkat
|
Pesanan tidak berulang atau berulang dalam jangka panjang
|
Tindakan
untuk mengulang setup
|
Dilakukan dengan meningkatkan efisiensi setup dan mengatur order
yang akan diproses
|
Dilakukan dengan meningkatkan efisiensi setup
|
Kedua sistem MTO ini umumnya memiliki sistem produksi job shop, agar
bisa mengakomodasikan order dengan ukuran yang kecil dan spesifikasi
setiap order yang berbeda. Akan tetapi, untuk beberapa sistem manufaktur
MTO yang berperan sebagai sub-kontraktor dapat memiliki sistem produksi flow
shop, karena adanya kesamaan proses dalam sistem order yang
diterima, misalnya sub-kontraktor produk semi konduktor, perusahaan pembuat
tirai alumunium untuk jendela rumah dengan berbagai ukurannya, dan pabrik
pengolahan karet alami.
Sistem produksi flow shop umumnya merupakan sistem produksi untuk
sistem manufaktur make to stock (MTS) yang cenderung untuk memproduksi
produk-produk dalam jumlah besar dan variasi yang sedikit. Pada sistem manufaktur
MTS, peningkatan performansi stasiun kerja dilakukan dengan memeperbaiki cara
kerja yang dilakukan di setiap stasiun. Sistem manufaktur MTO dapat juga
memiliki sistem produksi flow shop, tetapi peningkatan performansi
stasiun kerja tidak hanya dilakukan dengan memperbaiki cara kerja melainkan
juga dengan mengatur urutan order-order yang akan diproses.
Parameter-parameter lain yang membedakan sistem MTO repetitif dengan sistem MTS
dapat dilihat pada tabel 1.3.
Tabel 1.3.
Perbedaan antara Sistem Manufaktur MTO Repetitif
Flow Shop dan Make to Stock Flow Shop
MTO
Repetitif Flow Shop
|
MTS Flow
Shop
|
|
Respons
terhadap fluktuasi demand
|
Memperkecil
waktu penyelesaian
|
Mencari
jumlah inventori yang sesuai
|
Persediaan
produk jadi
|
Tidak ada (siklus pemesanan besar)
|
ada
|
Saat mulai
proses produksi
|
Jika ada
pesanan
|
Sesuai
hasil peramalan
|
Jumlah
yang diproduksi
|
Tergantung
jumlah pesanan
|
Sesuai
hasil perencanaan produksi
|
Perencenaan
produksi
|
Perencanaan
kapasitas
|
Perencanaan
jumlah yang diproduksi
|
Pada bagian
sebelumnya telah dijelaskan bahwa sistem produksi untuk sistem manufaktur MTO
dapat berupa job shop maupun flow shop yang ditentukan oleh
karakteristik urutan pengertian setiap order. Sistem MTO repetitif
memiliki sistem produksi job shop, apabila urutan pengerjaannya tidak
mengikuti suatu aliran urutan pengerjaan tertentu, sedangkan sistem produksi flow
shop diterapkan jika urutan pengerjaan setiap order mengikuti urutan
pengerjaan tertentu. Sistem MTO repetitif job shop dengan urutan
pengerjaan yang tidak mengikuti aliran tertentu mempunyai variasi urutan
pengerjaan yang lebih tinggi dibandingkan MTO repetitif flow shop,
sehingga perkiraan saat order akan diproses di stasiun kerja tertentu
untuk MTO repetitif job shop akan relatif lebih komplek dibandingkan
dengan MTO repetitif flow shop.
- Volume produksi
Bedworth & Bailey, 1987 mengklasifikasikan sistem manufaktur menjadi 3
kategori, yaitu:
a. Produksi massa
Laju serta tingkat produksi pada produksi massa umumnya tinggi, permintaan
terhadap produk yang dihasilkan tinggi, dan peralatan umumnya mempunyai fungsi
khusus. Keahlian tenaga kerja tidak terlalu tinggi sebagai akibat dari fungsi
peralatan yang khusus.
b. Produksi batch
Ukuran lot produksi adalah medium. Tujuan dilakukannya produksi batch
adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen terhadap produk-produk yang diperlukan
secara kontinu. Peralatan umumnya mempunyai fungsi umum tetapi dirancang untuk
tingkat produksi yang tinggi.
c. Produksi job shop
Tingkat produksi rendah, peralatan mempunyai fungsi umum, keahlian yang
diperlukan tenaga kerja cukup tinggi, biasanya membuat berdasarkan pesanan.
- Aliran produksi
Fogarty et al.
(1991) mengklasifikasikan sistem manufaktur berdasarkan aliran proses menjadi 3
tipe disain manufaktur tradisional, yaitu:
a. Fixed Site (Project)
Pada tipe project, material, tools, dan personel dialokasikan pada produk
yang dibuat. Secara ekstrim dikatakan bahwa tidak ada aliran produk pada tipe
ini, tetapi masih terdapat urutan operasi. Bentuk operasi pada project
digunakan ketika terdapat kebutuhan khusus/spesial yang memerlukan kreativitas
dan keunikan. Hal ini sulit diotomasikan pada proses manufaktur, karena hanya
dilakukan satu kali. Project memerlukan biaya tinggi dengan perencanaan dan
pengendalian yang sulit, sebab berat pada tahap definisi initial dengan tingkat
perubahan-perubahan dan inovasi yang tinggi.
b. Job Shop (Jumbled Flow)
Pada proses job shop, man dan machine dikelompokkan menjadi stasiun kerja
(semua bor pada satu stasiun kerja, gerinda, dan sebagainya). Aliran produk dan
job hanya pada stasiun kerja yang dibutuhkan. Keuntungannya, dengan mesin yang
berfungsi umum (general-purpose equipment) dan operator berketerampilan
tinggi membuat proses manufaktur job shop fleksibel dalam merespon perubahan
disain dan volume pesanan konsumen. Kerugiannya, tidak efisien.
c. Flow Shop, meliputi: small
batch line flow, large batch (repetitive) line flow,
dan continuous line flow.
Flow Shop disusun
dari stasiun kerja dalam urutan operasi untuk membuat produk. Semua produk
mengikuti standar produk yang ditentukan. Lintas rakitan automobile merupakan
contoh bagus untuk proses flow shop.
3 tipe flow shop adalah:
1) Small-Batch
Line Flow, mempunyai semua karakter flow shop, tetapi tidak semua
memproses produk yang sama secara terus menerus. Memproses beberapa produk
dengan ukuran batch kecil, dengan kebutuhan setup per batch. Digunakan ketika
biaya proses bisa dipertimbangkan, permintaan part rendah, dan non-diskrit.
Contohnya adalah farmasi.
2) Large-Batch (Repetitive) Line Flow, memproduksi produk diskrit dalam
volume besar tetapi tidak kontinu.
3) Continuous Line Flow merefer pada proses kontinu dari
fluida, bedak, logam, dan lain-lain. Biasa digunakan pada industri gula,
minyak, dan logam lainnya.
Tabel 1.4. Karakteristik Proses
Job Shop
|
Batch Flow
|
Small-Batch
Line Flow
|
Large-Batch
(Repetitive)
|
Continuous
|
|
Kelebihan
|
Kualitas
tinggi
|
Kualitas
tinggi
|
Kualitas
tinggi
|
Biaya
bersaing
|
Biaya
rendah
|
Variasi
|
Fleksibilitas
tinggi
|
Fleksibilitas
sedang
|
Fleksibilitas
sedang
|
Fleksibilitas
rendah
|
Standard
|
Implikasi
|
Biaya
tinggi
|
Biaya
tinggi
|
Biaya
sedang
|
Otomasi
|
Otomasi
|
Permesinan
|
Berfungsi
umum
|
Berfungsi
umum
|
Berfungsi
umum
|
Berfungsi
khusus
|
Berfungsi
khusus
|
Strategi
|
Make to
Order
|
Assemble
to Order
|
Assemble
to Order
|
Make to
Stock
|
Make to
Stock
|
Sumber: Fogarty, 1991
- Tata letak (lay out)
Groover, (1987)
mengklasifikasikan sistem manufaktur berdasarkan tata letak menjadi 3 kategori,
yaitu:
a. Fixed position layout
Fixed position layout disebut juga
layout dengan posisi tetap. Artinya pengaturan fasilitas produksi dalam membuat
produk, dengan meletakkan produk yang dibuat tetap atau tidak dipindah-pindah.
Mesin, karyawan, dan fasilitas produksi lain yang berpindah mengelilingi produk
yang dikerjakan sesuai dengan kebutuhan. Contoh: pembuatan produk pesawat
terbang, kapal laut, dan lain-lain.
b. Process layout
Process
layout disebut juga layout fungsional. Artinya
pengaturan letak fasilitas produksi di dalam pabrik didasarkan atas fungsi
bekerjanya setiap mesin atau fasilitas produksi yang ada. Mesin atau fasilitas
yang memiliki fungsi yang sama dikelompokkan dan diletakkan pada tempat yang
sama. Layout ini biasanya digunakan untuk membuat barang yang beragam. Dalam
layout ini arus barang selalu berubah, tergantung pada kebutuhan mesin yang
digunakan untuk membuat suatu produk. Contoh: berbagai produk dan besi.
c. Product flow layout
Product flow
layout disebut juga layout garis. Artinya
pengaturan letak mesin-mesin atau fasilitas produksi dalam suatu pabrik
didasarkan atas urut-urutan proses produksi dalam membuat suatu produk. Produk
yang dikerjakan setiap hari selalu sama dan arus produk yang dikerjakan juga
selalu sama, seolah-olah menyerupai garis, meskipun tidak selalu berupa garis
lurus.
F. Strategi Perencanaan dan Pengendalian Produksi
Perencanaan (planning) merupakan tahap awal dalam manajemen, yaitu
menentukan tujuan terukur dan memutuskan cara pencapaiannya. Sehingga planning
merupakan awal dari pelaksanaan dan pengendalian. Tanpa perencanaan, maka tidak
akan ada dasar pelaksanaan dan evaluasi pencapaian hasil. Pelaksanaan (execution)
adalah pelaksanaan dari rencana dan pengendalian merupakan proses membandingkan
antara hasil aktual dengan hasil yang diharapkan dan memutuskan langkah
berikutnya. Planning, execution, dan control
merupakan proses iteratif yang seharusnya dilakukan secara terus menerus.
Hirarki perencanaan meliputi:
1. Issues perencanaan
strategis
a. Perencanaan
produk yang akan dibuat
b. Perancangan sistem manufaktur
2. Issues perencanaan
taktis
a. Perincian
rencana strategis
b. Disagregasi
rencana agregat
c. Penentuan planned
order releases
3. Issues perencanaan
pelaksanaan
a. Dispaching planned
order releases
b. Day-by-day
basis
c. Minimizing
manufacturing lead time and work in process
G. Proses Manufaktur Baru
Sekarang telah berkembang disain proses manufaktur baru, yaitu:
- Flexible Manufacturing System (FMS)
Flexible Manufacturing System (FMS) adalah
disain proses manufaktur yang bersifat fleksibel dan dikontrol dengan
menggunakan komputer. Minimal ada 3 komputer yang harus ada dalam Flexible
Manufacturing System (FMS).
a. Adanya
rangkaian proses produksi yang terdiri atas beberapa macam pusat kerja dan
diatur dengan menggunakan komputer. Biasanya dengan CNC Machines.
b. Pengangkutan barang dilakukan secara otomatis,
biasanya dengan AGV atau Automated Guided Vehicles.
c. Bongkar muat dan pengambilan barang dilakukan
secara otomatis, biasanya dengan AS/AR atau Automated Storage and
Retreival System.
- Agile Manufacturing System (AMS)
AMS merupakan perusahaan yang akan mencapai keuntungan yang dicapai FMS
tetapi tanpa otomasi intensif. AMS lebih merupakan sebuah filosofis dibanding
sekumpulan hardware. Dalam satu industri, AMS biasa akan menggunakan JIT
(Just in Time), pada shop floor pada saat eksekusi, sebab teknologinya
dapat dipakai dengan biaya yang efektif (cost efective). Secara umum,
AMS merupakan sistem manufaktur yang mempunyai kapabilitas yang lengkap dalam
merespon permintaan konsumen.
Beberapa bagian dalam sistem manufaktur masa depan antara lain:
1. EDI (Electronic Data Interchane) adalah
sistem informasi dengan menggunakan komputer yang dihubungkan dengan telepon
atau alat komunikasi yang lain.
2. CAD (Computer Aided Design) adalah pembuatan
disain produk dengan menggunakan bantuan komputer. Dengan bantuan komputer
dapat dibuat gambar disain dengan mudah serta perhitungan penggunaan bahan,
daya tahan produk, dan informasi lain yang berhubungan dengan desain produk
yang dibuat.
3. CAM (Computer Aided Manufacturing) adalah
penggunaan komputer untuk merencanakan, mengatur, dan mengontrol kerja mesin,
alat-alat, dan arus produk dalam proses produksi.
4. CAPP (Computer Aided Process Planning)
adalah penggunaan komputer untuk proses perencanaan yang berhubungan dengan
pembuatan suatu produk.
5. CAI (Computer Aided Inspection) adalah
penggunaan komputer untuk melakukan pemeriksaan produk jadi sesuai dengan
spesifikasi yang telah ditentukan.
H. Rangkuman
1. Perencanaan dan pengendalian produksi merupakan
perencanaan kegiatan-kegiatan produksi, agar apa yang telah direncanakan dapat
terlaksana dengan baik.
2. Tujuan utama perencanaan dan pengendalian produksi
adalah memaksimumkan pelayanan bagi konsumen, meminimumkan investasi pada
persediaan, perencanaan kapasitas, pengesahan produksi dan pengesahan
pengendalian produksi, persediaan dan kapasitas, penyimpanan dan pergerakan
material, peralatan, routing dan proses planning.
3. Sistem pengendalian dan perencanaan produksi dalam
sistem manufaktur terbagi ke dalam tiga tingkatan, yaitu perencanaan jangka
panjang (long range planning), perencanaan jangka menengah (medium
range planning), dan perencanaan jangka pendek (short range planning).
4. Perencanaan dan pengendalian produksi pada sistem
manufaktur dipengaruhi oleh bentuk tipe produksinya, yaitu Make to Stock
(persediaan dibuat dalam bentuk produk akhir yang siap dipak), Make to Order
(mempunyai persediaan tetapi hanya dalam bentuk desain produk dan beberapa
bahan baku standar, sesuai dengan produk yang telah dibuat sebelumnya), Assemble
to Order (semua subassembly masuk pada persediaan), dan Engineering to
Order (tidak ada persediaan, produk belum dibuat sebelum ada order).
5. Perencanaan dan pengendalian produksi pada sistem
manufaktur dipengaruhi pula oleh jenis volume produksi (produksi massa,
produksi batch, produksi job shop), aliran produksi (fixed Site/project)
,job shop /jumbled flow, flow shop), dan tata letak
(fixed position layout, process layout, product flow
layout).
6. Disain proses manufaktur baru, yaitu Flexible
Manufacturing System (FMS) dan Agile Manufacturing System (AMS)
merupakan sistem manufaktur yang berkembang guna merespon permintaan konsumen.
I. Bahan Acuan
- Bedworth, David D., and Bailey, James E., 1987, Integrated Production, Control Systems: Management, Analysis and Design, 2nd Edition, John Wiley & Sons.
- Fogarty, Donald W., Blackstone Jr., John H.; Hoffmann, Thomas R. 1991, Production & Inventory Management, 2nd Edition., South-Western Publishing Co.
- Groover, MP., 1987, Automation, Production Systems, and Computer Integrated Manufacturing, Prentice Hall.
- Oden, HW et all, 1993, Handbook of Material & Capacity Requirement Planning, Mc. Graw Hill Inc.
- Sipper, Daniel, and Bulfin Jr., Robert L., 1997, Production; Planning, Control and Integration, McGraw-Hill.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar